
Kehidupan modern yang didominasi oleh layar gawai perlahan-lahan mulai menggeser pentingnya sebuah interaksi langsung. Kondisi ini menyisakan sebuah pertanyaan penting: ke mana perginya kreativitas dan mimpi-mimpi masa kecil kita dahulu? Di saat masyarakat dituntut untuk selalu adaptif terhadap perkembangan teknologi, seorang pelajar SMAN 1 Kuta Utara bernama Devi memilih jalan yang sunyi namun berdampak. Melalui gerakan AKSARA (Aksi Harapan dan Remaja), ia membuktikan bahwa cita-cita masa kecil tidak harus hilang tertelan zaman, melainkan bisa dirawat agar terus tumbuh.
Remaja yang dikenal dengan julukan “Si Pendongeng Sakura” ini memiliki cara tersendicalam menyampaikan pesan moral kepada anak-anak sekolah dasar. Bermodalkan boneka tangan bernama Babon, Devi mencoba menyentuh sisi humanis para pendengarnya. Di tengah gempuran teknologi animasi yang kian canggih, ia tetap konsisten menggunakan media konvensional. Baginya, boneka tangan menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki oleh layar digital, yaitu kedekatan emosional, ekspresi yang jujur, serta komunikasi dua arah yang hangat.
Keselarasan Antara Ucapan dan Tindakan. Hilangnya mimpi dan idealisme seseorang sering kali terjadi karena tuntutan realita. Namun, Devi memperlihatkan sudut pandang lain; mimpi akan tetap terjaga jika diiringi dengan integritas yang kuat. Ia percaya bahwa esensi mendongeng bukan sekadar teknik berbicara di atas panggung, melainkan bagaimana nilai yang disampaikan tertanam dalam perilaku sehari-hari. Sebagai contoh, ketika ia mengampanyekan nilai tanggung jawab, ia menerapkannya secara langsung dengan selalu merapikan kembali buku dan seluruh properti panggungnya tanpa mengandalkan orang lain.
Keterlibatannya dalam Paguyuban Duta Literasi Sakura menunjukkan bahwa usia muda bukanlah halangan untuk membawa perubahan. Devi berhasil mengemas ulang pesan-pesan moral yang terkesan kaku menjadi sebuah pertunjukan yang menarik. Gerakan ini sekaligus mendefinisikan ulang makna literasi, dari yang semula hanya aktivitas membaca teks, menjadi sebuah aksi nyata untuk berbagi kepedulian.
Mengukir Harapan untuk Generasi Mendatang. Langkah yang diambil oleh Devi menjadi pengingat berharga bagi kita semua. Generasi yang tangguh untuk menyambut Indonesia Emas 2045 tidak akan terbentuk dari mereka yang hanya diam melihat keadaan. Cita-cita masa depan hanya akan terwujud di tempat di mana ketulusan dan kerja keras ditanam. Ketika kita berani mengambil peran dan memaksimalkan potensi diri, maka mimpi tersebut akan menjadi warisan yang berharga bagi masa depan. Sekarang, keputusan ada di tangan kita: apakah kita memilih untuk membiarkan harapan tersebut pudar, atau ikut mengambil langkah nyata seperti Devi demi kemajuan bangsa?
Telp: 0361-425909
Email: sman1kutautara@gmail.com
© Copyright SMA Negeri 1 Kuta Utara 2020. Designed and Developed by Team IT
Jl. Made Bulet, No.19, Desa Dalung, Kab Badung, Provinsi Bali